jOm La jOiN

Monday, May 23, 2011

Ini amanah...

Salam 'alaik....

maaf blog, terpaksa abaikan kamu sekejap
demi amanah yang baru dipikul


kerana saya mahu mendapat
laporan macam ni...


insyaAllah...

p/s : ngah pening memikirkan silibus yang belum habis
       sedangkan exam murid2 ni lepas cuti sekolah...
       

sekian,
tepuk dada tanya iman..

Monday, April 18, 2011

Restui Perjuanganku...

Salam

Mohon doa semua....(_ _)


sekian 
tepuk dada tanya iman

Friday, April 8, 2011

Salam Perjuangan

Selamat Berjuang Sahabat




Malam siang berlalu
Gerhana kesayuan 
Tiada berkesudahan

Detik masa berlalu
Tiada berhenti
Oh syahdunya

Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan
Penuh onak dan cabalan

Bersama teman - teman 
Arungi kehidupan
Oh indahnya o ooo

Berat rasanya
Didalam jiwa
Untuk melangkah 
meninggalkan semua

Kasih dan cinta
Yang terbina
Diakan selamanya
O ooo 

Slamat berjuang sahabatku
Semoga Alloh berkatimu
Kenangan indah bersamamu
Takkan kubiar dia berlalu
Berjuanglah hingga ke akhirnya
Dan ingatlah semua ikrar kita

Hati ini sayu mengenangkan
Sengsara di dalam perjuangan
Jiwa ku merana dan meronta mengharapkan
Kedamaian dan jua ketenangan wo uwo

Tetapi kuatur pada hakikat
Suka dan duka dalam perjuangan
Perlu ketabahan dan kekuatan 
Keteguhan hati berlandaskan iman

Slamat berjuang sahabatku(sahabatku)
Semoga Alloh berkatimu (berkatimu)
Kenangan indah bersamamu (bersamamu)
Takkan kubiar dia berlalu (ooooo)
Berjuanglah hingga ke akhirnya 
Dan ingatlah (ingatlah) semua ikrar kita

O o ohooo ho o ohooo

Album : Teman Sejati
Munsyid : Brothers
http://liriknasyid.com

sekian
tepuk dada tanya iman

Friday, April 1, 2011

AMANAH

AMANAH


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
 (Al-Baqarah: 216)


aku tidak mengharapkannya datang, dan aku tidak menolaknya pergi
tetapi saat ia hadir kepadaku, walau seberat manapun
aku harus berlapang dada
kerana aku tahu Allah sentiasa ada

"maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
 sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
al-insyirah : 5-6



DI ANTARA DALIL-DALIL AL QUR`AN YANG MENJELASKAN TENTANG AMANAH

1. Surat an Nisaa/4 ayat 58 :


"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…"

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (2/338-339) berkata : Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Ia memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari Samurah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ 

"Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu". [Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan].



2. Surat al Anfal/8 ayat 27 : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ 

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,"… Dan khianat, mencakup seluruh perbuatan dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik (dosanya) terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

 'Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, (tentang firmanNya) وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ , amanah adalah seluruh perbuatan yang telah Allah bebankan kepada hamba-hambaNya (agar mereka menunaikannya, Pen), yaitu (berupa) kewajiban-kewajiban. 
Dan maksud "janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat” adalah, janganlah kamu menggugurkannya. 
Dalam sebuah riwayat, ‘Ibnu Abbas menjelaskan maksud firmanNya: لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ , (janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul), dengan cara meninggalkan sunnah Nabi dan melakukan maksiat kepada Nabi"


3. Surat al Ahzab/33 ayat 72 :

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh".

Al Hafizh Ibnu Katsir t , setelah membawakan beberapa perkataan dari shahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini, beliau berkata: “Seluruh perkataan ini, tidak ada pertentangan sesamanya. Bahkan seluruhnya bermakna sama dan kembali kepada satu makna, (yaitu) pembebanan, penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan syarat-syaratnya. Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya, maka ia akan diberi pahala. Namun, jika ia menyia-nyiakannya, maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima amanah ini, padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zhalim. Kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan”.

4. Surat al Mu’minun/23 ayat 8, atau surat al Ma’arij/70 ayat 32:


"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya".

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/227) berkata: "Maksudnya, apabila mereka dipercaya (dalam suatu urusan), mereka tidak berkhianat. Dan apabila mereka mengadakan perjanjian, mereka tidak menyelisihinya. Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Dan kebalikan dari ini, adalah sifat orang-orang munafik. Sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih, tanda orang munafiq ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat. Dalam sebuah riwayat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila bertengkar ia berbuat curang.

5. Surat al Baqarah/2 ayat 283:


"…Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya…".





sekian
tepuk dada tanya iman

Sunday, March 27, 2011

Malunya...!!


Salam 'alaik...
sekadar perkongsian di samping mengingatkan diri sendiri...



DI MANA ALLAH DALAM HIDUP KITA?

Beberapa kali terjadi peristiwa begitu dalam kehidupan kita, tak? Selalunya dalam keadaan terdesak dan kekalutan sebegitu, kita cepat lupa kepada Allah. Allah Yang Maha Berkuasa atas segalanya.

Dalam program, bila tiba-tiba LCD atau laptop tiba-tiba hilang fungsi di tengah-tengah program sedang berjalan, apa yang paling awal bermain di minda kita ketika itu?

Dalam kekalutan dan kegawatan kita membuat persediaan untuk sesuatu, tiba-tiba bahan yang kita gunakan sebagai rujukan sebagai contoh catatan-catatan penting, dokumen-dokumen penting hilang secara tiba-tiba, ke mana perginya hati kita ketika itu?

Situasi-situasi terdesak. Di celah-celah itu, Allah menguji hubungan kita dengan-Nya.
MashaAllah. Istimewanya memiliki Allah sebagai Rabb.
Di celah-celah ketika itu, Dia tetap memanggil kita secara halus dengan kasih sayang-Nya, tetapi kadang-kadang, kita tidak sedar dan tidak perasan. Selalu saja lupa dan leka.

Kata seorang ulama’ :
“Nikmat terbesar adalah bila kamu memiliki Allah sebagai Rabb.”

Malu saya dengan Allah. Baru tahu nilai Allah dalam diri.

Seorang murabbi pernah berpesan:
“Letakkan pergantungan kita kepada Allah. Bukan kepada alat-alatan yang canggih, laptop, LCD dan sebagainya. Itu semua sebagai usaha kita. Kalau Allah tak izin, maka kecanggihan alatan itu pun tak dapat membantu program kita.”

Begitulah hakikat kehidupan kita. Kita perlukan kepada Allah sepenuhnya dalam kehidupan kita. Kita perlukan Dia setiap masa. Bukan pada masa kita yang kita hendakkan Dia, baru kita rapat dengan Dia.

Bila tiba musim peperiksaan, barulah sibuk-sibuk mencari Allah.
Bila tiba musibah, barulah gopoh mencari dan meminta pada Allah.

Waktu-waktu lain, ingatkah kita pada Dia?
Rapatkah kita dengan Dia?

Ada sesetengah orang mencari Allah hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada waktu pernikahannya, pada waktu kelahiran anaknya dan pada waktu kematiannya. Seolah-olah dalam kehidupannya, Allah ini hanyalah sampingan. Bila perlu, dicari. Bila tak, ditinggalkan.

Hakikatnya, KEPERLUAN kita kepada ALLAH sangat mendesak. Genting dan begitu penting dalam kehidupan kita. Kita perlukan Dia setiap saat dalam hidup. Bila kita meng ‘hilang’kan Dia dari kehidupan kita, kekuatan kita juga akan hilang.

Seorang ulama’ pernah menyebut:
“Jika engkau ingin tahu kedudukan Allah dalam hatimu, lihatlah di mana engkau letakkan Allah dalam hidupmu”


MALU KEPADA ALLAH, IA TIDAK BERHENTI SEKADAR ITU

Saya suka memetik kisah sahabat sebagai contoh. Thabit bin Qois adalah contoh yang hebat dalam bersikap malu kepada Allah.

Tsabit bin Qois merupakan jurucakap Rasul s.a.w. Apabila perwakilan Arab datang untuk mengagungkan kemuliaan mereka kepada Rasulullah s.a.w. atau mahu berdebat, maka Rasul s.a.w. akan mewakilkan Tsabit bin Qois.

Suatu hari, Rasul s.a.w. melihatnya menggigil ketakutan dan sedang bersedih. Lalu Rasul s.a.w. pun bertanya, “Apa yang terjadi kepadamu, wahai Abu Muhammad (gelaran kepada Thabit)?”

Tsabit menjawab, “Sesungguhnya Allah s.w.t melarang kita untuk menyukai pujian orang kepada sesuatu yang kita lakukan, sedangkan aku menyukai pujian. Allah melarang kita untuk takbur, sedangkan aku suka membanggakan diriku.”

Rasulullah s.a.w. menenangkannya. Rasulullah tahu bahawa Tsabit bukanlah orang yang demikian.
Baginda bertanya, “Wahai Tsabit, tidakkah kau ingin hidup terpuji dan mati syahid serta masuk syurga?”

Wajah Tsabit bersinar-sinar mendengar khabar gembira itu. “Sudah tentu, wahai Rasulullah.”

“Engkau mendapatkan semua itu.” Jawab Rasul s.a.w.

Nah! Itulah contoh malu yang sangat hebat. Malunya kepada Allah hingga mendorong hatinya untuk menggeletar dan menangis lantaran perkara kecil yang tidak disukai Allah sedang dirinya tidak memiliki hal itu.

Dalam suatu kisah lagi, turun ayat Allah s.w.t. dari surah Al-Hujurat yang berbunyi:

2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu[1408], sedangkan kamu tidak menyadari.


Thabit bin Qois begitu terasa seolah-olah ayat ini ditujukan kepadanya kerana dia memiliki suara yang lantang. Hinggakan beliau menjauhi majlis-majlis baginda meskipun beliau begitu mencintai baginda s.a.w. Beliau begitu sedih hinggalah tiba khabar dari Rasul s.a.w. bahawa dia termasuk dari kalangan ahli syurga, barulah tenang hatinya.

Itu hebatnya malu Thabit bin Qois terhadap Allah s.w.t.  Sensitif jiwanya dengan perintah-perintah dari Allah. Mengakibatkan dia malu untuk berbuat mungkar meskipun sedikit.


PENUTUP :  BERILAH RUANG UNTUK DIA DALAM HATIMU !

Mari kita kembali meneliti alam ini. Mampukah ia bergerak dan hidup jika tidak ada Yang Menetapkan perjalanannya dan Memberi izin padanya?

Burung yang berterbangan di langit, mampukah ia terbang jika Allah tidak mengizinkannya?

Bunga yang tumbuh cantik dan mewangi, siapa yang mencipta dan mengizinkan semua itu jika tidak Allah?

Mata kita yang dapat melihat jelas ini, mampu kita buka dan tutup, apakah nikmat itu masih kekal terus jika Allah gelapkan ia?

Semuanya itu dalam aturan Allah. Dari sekecil-kecil perkara hinggalah sebesarnya.
Dari sekecil atom hinggalah seluas alam semesta ini.
Semua itu dalam pengetahuan Allah.

Sebab itu, berilah ruang untuk Dia dalam hatimu!

Kita tidak akan pernah menyesal. Tidak akan pernah kecewa dan putus asa bila kita letakkan segala-galanya kepada Allah.

Kerana Dia akan aturkan yang TERBAIK juga untuk kita bila kita beri yang TERBAIK kepada-Nya!
 


sekian
tepuk dada tanya iman

p/s: baru sedar akan kehebatan ayatullah,
      "hasbunallahu wa ni'mal wakeel..."
      dan betapa kebergantungan kpd Allah 
       paling perlu diutamakan.....